![]() |
| Rawinala Kids |
Thursday, July 10, 2008
Sunday, April 13, 2008
BERKAT BERKELIMPAHAN
Aku mau KAU menerima berkat berkelimpahan ya Tuhan tetapi aku tidak mau melalui proses yang Tuhan tetapkan untuk menilai apakah aku layak menerima berkat berkelimpahan itu. Hati yang seperti ini sering terjadi dalam hidup kita.
Saat ini aku merasakan Tuhan sedang memproses aku untuk meilihat apakah aku layak untuk di tinggikan-NYA atau tidak, apakah aku layak untuk menerima berkat berkelimpahan itu dan menang dalam tiap proses. Karena proses ini akan membuat aku sadar bahwa semua yang baik yang terjadi dalam hidupku hanyalah atas kemurahan Tuhan. Aku merasakan kebaikan Tuhan dan berkat yang berkelimpahan dalam hidupku. Aku bahkan terkagum-kagum melihat semua kebaikan Tuhan atas hidupku. Namun saat ini aku mengalami banyak hal sulit dalam hidupku, tekanan, masalah dan air mata. Aku mereview semua yang terjadi dan menyadari kalau saat ini aku melalui waktu-Nya Tuhan membentuk aku untuk menjadi pribadi yang berkenan di hadapan Tuhan, menerima berkat yang berkelimpahan sehingga menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Aku menyadari proses itu tidak mudah namun aku percaya Tuhan sangat mengetahui porsi yang tepat buat aku. Proses pembentukan ini bagaikan seorang pernjual martabak telur yang mengolah bahan-bahan mentah sampai menjadi martabak telur yang siap disajikan. Aku bisa membayangkan ketika seorang penjual martabak telur menyatukan semua bahan-bahan kemudian membanting adonan tepung berkali-kali dan kemudian memanggangnya dan siap disajikan. Aku menyadari proses pembentukan martabak telur ini tidak mudah. Kita tidak pernah tahu seberapa banyak bantingan adonan tepung yang diperlukan oleh sipenjual martabak telur sampai bisa masuk dalam proses selanjutnya. Kita juga tidak pernah tahu seberapa besar api yang diperlukan untuk memanggang adonan. Semua tergantung sipenjual martabak telur. Tiap adonan memiliki catatan masing-masing. Jika adonan hangus maka penjual martabak telur membuangnya ke tong sampah tetapi jika tidak maka siap untuk dihidangkan dan menajadi berkat bagi orang yang memesannya.
Aku menyadari saat ini Tuhan sedang mengadon berkat-berkat yang aku peroleh dari Tuhan dengan adonan lainnya. Aku tahu Tuhan akan melakukan proses itu dan melihat apakah aku menang atas proses itu sehingga bukan tong sampah yang menjadi tempatku melainkkan menjadi berkat bagi banyak orang dan mengenyangkan banyak jiwa. Aku tahu proses itu tidak mudah tetapi aku sangat percaya Tuhan mengerahui kekuatanku sebagai bahan adonannya. Aku sangat percaya Tuhan mengetahui berapa banyak bantingan dan kerasnya api untuk menjadikan aku sebuah pribadi yang dipercaya dan menjadi saluran berkat bagi orang lain. Aku mau Tuhan melalui proses itu karena aku mau ENGKAU berkati berkelimpahan dan menjadi saluran berkat bagi orang lain. ………” TETAPI AKU TETAP DI DEKAT-MU YA TUHAN, ENGKAU MEMEGANG TANGANKU DENGAN NASIHAT-MU. ENGKAU MENUNTUN AKU DAN KEMUDIAN ENGKAU MENGANGKAT AKU KE DALAM KEMULIAANMU. SEKALIPUN DAGINGKU DAN HATIKU HABIS LENYAP, GUNUNG BATUKU DAN BAGIANKU TETAP ALLAH SELAMANYA---------“
Sunday, March 16, 2008
Friends always show their love
Several past days, I learned how to be a true friend for some one, giving unconditional love. In the morning, I went to my office with happiness, checked my email and I saw a new email from my beloved friend. I thought she want to share about the kids lives. I was exciting to open it and I was upset after I read her email. She told me about her stuck feeling working within the kids and that environment. She told me that she is seeking what she really needs for her future now.
Usually we go together to some place every Saturday for church service. I found that community because she brought me. She asked me to assist her for kid Sunday school. I like teaching and kids so I was exciting when she invite me. All people in that community also know that I met her because of the needy kids. I’m happy playing with these kids. I always wait for Saturday and Sunday because I can off from my work and do for something different. My friend’s email also told me that right now for every Saturday and Sunday, she really needs a place where she totally meets different people and totally far away from the needy kids story. She was asking me not to go with her because if I still around her, she can’t totally get free life from the kids. She needs socialization in the different community. I understand her. 5 years working and stay within the kids every day. She is young girl and like other girls, she also need different environment. I want she is always happy and get all her dreams. I love her and that is a reason I replied her email that I will not go with her.
Honesty when I wrote it, my heart broken and I cried. I did not hate her or think bad thing about her. I also really want to help her to get happiness because she is special for me but on the other hand, I felt so sad because I can’t meet my Sunday kids anymore. I even did not say anything before I leave them. I promise that I will buy a DVD about God’s story and watching together some day. I have prepared drawing for them to coloring it for homework. All these things move me. I love all the naughty of these kids and I’m losing it now. I even can’t say anything when my Pastor asks me why I did not come.
I was asking my self why I can’t stop crying out if I really love her as my friend. It was show that my love is not pure for her. I only think my self. If I love her and her happiness is important for my life, I should happy if I can sacrifice some thing for her. God trade His life for all my sins without consideration because God has unconditional love for me. He never care how heavy that cross to cost my sins and my salvation. God was happy when HE did it. I learned how to give unconditional love now. Friends always show their love. What are sisters / brother for if not to share trouble?
Monday, October 1, 2007
MIMPI DAN MOTIVASI
Ketika aku masih berusia 7 tahun, ada suatu kejadian yang bagiku merupakan titik balik kehidupanku dan keluargaku. Ayahku mengalami stroke total dan akhirnya meninggal dunia akibat depresi luar biasa yang dialaminya. Hancurnya perkebunan kelapa sawit ratusan hektar yang dibangunnya dan yang seharusnya menghasilkan buah pertama dalam dua bulan ke depan di luar perkiraannya hancur total. Ketika ayahku meninggal kehidupan kami berubah 360 derajat. Kami harus menjual rumah, mobil dan perkebunan untuk menutupi biaya pengobatan ayahku selama sakit dan membayar hutang di bank untuk modal perkebunan. Aku yang tidak pernah memijakkan kaki ke tanah sejak kejadian itu harus berjalan di bawah panas matahari untuk pergi ke sekolah negeri di dekat perkebunan. Saat itu aku juga belum benar-benar mengerti arti dari kematian. Pikiran anak-anak yang sederhana ketika itu tidak mengetahui bahwa aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi sesudah pemakamannya. Aku tidak dapat melihat apakah kehidupan yang aku jalani saat itu merupakan suatu mimpi atau kenyataan. Saat itu aku adalah seorang anak kecil yang hidup tanpa mimpi dan tidak berani berharap dan bermimpi. Walaupun prestasiku bagus di sekolah tapi hal tersebut sama sekali tidak penting bagiku. Sampai akhirnya aku memasuki perkuliahan aku belum berani menentukan apa yang hendak aku capai dalam hidup.
Pada pertengahan tahun 2001, secara tidak sengaja aku mempunyai seorang teman yang berasal dari
Aku mulai bermimpi untuk bisa memperoleh pendidikan yang lebih baik. Bermimpi untuk bisa duduk di bangku kuliah pasca sarjana. Mimpi itu memotivasi aku untuk berusaha belajar dan mengembangkan diri, mencari peluang-peluang beasiswa. Mimpi itu membuat aku melihat potensi-potensi yang Tuhan sudah percayakan kepadaku.
Mimpiku menjadi kenyataan ketika aku bertemu dengan seorang bapak dari Amerika yang datang ke
Aku pernah melakukan observasi beberapa minggu hidup dengan anak-anak jalanan. Aku melihat mereka ketika malam hari setelah selesai mengamen, mereka menghirup aroma “Lem Kambing” selama beberapa menit. Lem Kambing tersebut bisa membuat mereka tidak sadar diri dan masuk ke dunia halusinasi mereka. Selama aroma lem kambing tersebut bekerja mereka bisa pergi di dunia manapun yang mereka inginkan. Aku mendengar anak yang satu mengatakan….” Saya sedang bersama wiro sableng sekarang…….….” Sambil tertawa menyeramkan sedangkan anak yang lain mengatakan “…. saya sekarang berada di diskotik….”. Aku bertanya kepada mereka mengapa harus menghirup zat beracun tersebut meskipun tahu mereka akan terserang infeksi saluran pernapasan. Mereka menjawab karena dengan menghirup aroma lem tersebut mereka baru berani bermimpi untuk bisa mendapatkan kebahagiaan dan hidup dengan harapan. Jika mereka sadar, mereka mengatakan tidak berani bermimpi suatu hari ada kehidupan yang lebih baik karena gelapnya kehidupan alam nyata yang mereka jalani. Alasan inilah yang membuat mereka tidak termitivasi untuk belajar dan bersekolah.
Jawaban mereka menyadarkan aku bahwa jika kita berani bermimpi maka kita harus mensyukurinya karena mimpi itu memotivasi kita untuk bergerak maju. Jika tidak ada impian dalam hidup kita maka kita tidak akan termotivasi untuk melakukan sesuatu yang ekstra dan sampai kapanpun kita akan terus berjalan di tempat. Tidak akan ada kehidupan yang lebih jika tidak ada tindakan yang lebih dan motivasi yang lebih akan timbul dari impian yang kuat. Keep Growing…………
Monday, September 10, 2007
Kebutuhan…??? Harga Diri……??????
Siang itu aku dan teman kerjaku secara tidak sengaja bertemu dengan seorang pimpinan dan sekaligus pemilik sebuah perusahaan kontraktor. Kami sudah lama tidak berkomunikasi. Sembari menikmati makan siang dan menanyakan kabarnya (keadaan dia dan keluarganya, juga menanyakan perkembangan perusahaannya). Dia menceritakan sesuatu yang sangat menarik dan mengusik pikiranku.
Dia mengatakan di dalam perusahaan yang dia pimpin, dia tidak pernah menggunakan cara PHK ketika tidak puas dengan kinerja karyawannya atau ketika karyawannya melakukan suatu kesalahan. “….Jika mem-PHK karyawan,saya harus mengeluarkan uang untuk membayar pesangon atau gaji sampai kontrak perjanjian berakhir dan saya tidak mau rugi walau sedikitpun….” Inilah ungkapan bapak tersebut. Ketika saya tidak puas dengan kinerja karyawan saya atau salah satu karyawan melakukan kesalahan fatal maka saya akan memanggil karyawan tersebut serta memindahkan meja kerjanya persis di depan meja saya. Kemudian saya tidak akan memberikan dia pekerjaan serta tanggung jawab sedikitpun dan tidak mengijinkan dia melakukan tugas-tugasnya. Saya meminta karyawan yang lainnya untuk mengambil alih semua tanggung jawabnya. Setiap harinya saya membeli sedikitnya tiga jenis
Teman saya tersebut mengatakan bahwa beliau telah melakukan strategi ini selama bertahun-tahun dan setiap orang yang diperlakukannya seperti ini biasanya hanya bertahan sebulan kemudian langsung mengundurkan diri. Dengan tidak membebani karyawannya akan tugas-tugas kantor, mengasingkan dia dari komunitas lingkungan kerja dan tidak melibatkan dia dalam aktivitas perusahaan akan membuat karyawan tersebut merasa tidak dihargai dan tidak dibutuhkan yang pada akhirnya membuat dia mengambil keputusan mengundurkan diri.
Aku terkesan dengan caranya memenejemen karyawan. Aku tahu betul bahwa dia sama sekali tidak pernah belajar manajemen personalia atau bahkan tidak pernah membaca teori-teori tentang manajemen sumber daya manusia namun kenyataannya strategi yang dia terapkan merupakan aplikasi dari teori-teori dan hasil-hasil penelitian mengenai Human Resource Development. Aku baru menyadari bahwa ketika kita diperhadapkan pada pilihan antara uang dan harga diri dalam komunitas lingkungan kerja maka kita akan memilih harga diri. Inilah alasan mengapa cara yang dipergunakan oleh temen saya tersebut selalu berhasil menyelesaikan masalah karyawannya.
Sekarang aku me-review kehidupanku kembali sehubungan dengan pentingnya arti harga diri berdasarkan survey hasil penerapan strategi manajemen karyawan temanku tadi. Aku dalam hidup ini sering sekali mengasingkan DIA pencipta kehidupan dan alam semesta ini dari kehidupanku. Tidak menganggap DIA penting terlibat dalam rencana-rencanaku serta sering membebas tugaskan-Nya. Jika temanku tadi melakukan ini pada karyawannya karena kekecewaan atau kesalahan yang dilakukan, tetapi aku melakukan ini tanpa alasan apapun.
Aku mulai berfikir bagaimana jika suatu saat DIA jenuh dan memilih untuk resign dari kehidupanku? Memilih untuk mempertahankan harga diri-Nya seperti karyawan teman aku tadi? Apakah aku sebagai manusia lebih tinggi derajatnya dibanding DIA,sehingga DIA layak untuk tidak dihargai sedangkan aku harus berontak dan memperjuangkan harga diriku ketika orang lain merendahkannya,…??? Aku tersenyum dalam hati,… betapa egoisnya aku dan betapa mulianya DIA,….
Monday, September 3, 2007
BEKERJA PADA LEVEL YANG TERTINGGI
Bekerja merupakan bagian dari kehidupan, hanya saja pengertian bekerja seringkali hanya kita tujukan pada “Market Place”. Baik yang bekerja di market place (secular) maupun yang bekerja di pelayanan keagamaan, keduanya pernah mengalami masa sulit (pergumulan) di dalam pekerjaannya serta memiliki tingkatan diposisi mana seseorang itu bekerja.
Hirarki kebutuhan ini dapat kita gunakan untuk menyelidiki pada level mana sebenarnya saat ini kita bekerja, baik kita yang bekerja di bidang secular maupun bidang lainnya. Jika saat ini focus kita bekerja hanyalah semata untuk menghasilkan uang maka kita bekerja hanya pada tahap untuk bertahan hidup (survival) dan kita tergolong dalam level pertama dan kedua dalam hirarki kebutuhan Maslow. Jika tujuan kita bekerja untuk memiliki relationship maka kita bekerja untuk mencari kenyamanan diri (comport) serta kita tergolong dalam level ketiga. Jika kita bekerja karena ingin berkembang dan meraih kesuksesan (growing and success) maka kita berada pada level ke empat karena dengan kesuksesan yang kita peroleh maka kita expect untuk mendapat pujian dan rasa hormat dari orang lain.
Thursday, August 30, 2007
Bekerja,….......…Dieksploitasi,…......atau Keduanya,……
Sejak aku mengenalnya walaupun dia tidak mengetahui aku memperhatikannya, entah kenapa dia begitu dekat di hatiku. Setiap pagi ketika aku berdoa, wajahnya selalu terlintas di pikiranku dan setiap kali itu pula air mataku tidak dapat aku tahan. Aku bahkan tidak dapat mengucapkan satu katapun meminta sesuatu untuk nenek tersebut kepada DIA yang memiliki segalanya. Aku hanya berdoa, “Lord,.. Please teach me how to start praying for her needs”
Setiap pagi aku berusaha sampai sebelum tempat duduk bus penuh agar aku dapat memberi sesuatu padanya sebelum aku memulai hariku (karena biasanya jika tempat duduk sudah penuh terisi, pengemudi bus menyuruhnya untuk keluar). Selama beberapa bulan aku begitu rindu untuk menanyakan tempat tinggalnya, keluarganya tetapi setiap kali aku mencoba untuk senyum dan menyapanya, suaraku hilang dan air mata yang jatuh.
Pagi ini hatiku begitu hancur melihat dia. Seorang nenek yang selalu semangat bernyanyi, pagi ini meneteskan air mata persis tepat berdiri dihadapanku. Seorang lelaki muda penjual Koran mengejek dia dengan sandal barunya ditambah dengan celetuk supir bus yang mengatakan bahwa nenek tersebut hari ini bergaya karna baru gajian kemaren. Aku melihat nenek tersebut hanya diam dan beberapa detik kemudian dia mengambil sepotong tisu yang juga sudah kumal dari kantong bajunya sambil menghapus air matanya.
Oh,.. Lord,…I know You love her too,…hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari hatiku. Aku baru menyadari ternyata hidup yang dia jalani jauh lebih buruk dari yang selama ini aku pikirkan. Sekarang aku baru menyadari bahwa jika dia mengamen setiap paginya dari satu bus yang kosong ke bus yang lainnya, ternyata semua yang didapatnya bukan sepenuhnya miliknya. Dia hanya mendapatkan jatah yang sudah ditetapkan oleh orang yang mengelolanya. Selama ini aku mengira dia hanya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya ternyata kenyataannya di atas kemiskinannya ada orang yang menikmati keuntungan.
Seandainya ada yang bisa dilakukan oleh kedua tanganku yang kecil dan tak berdaya ini untuknya,….mungkin inilah kebahagiaanku yang terbesar. Wajahnya begitu dekat di ingatanku. Jika aku cuti kerja dan tidak melihatnya, perasaan rindu begitu mendalam dalam hatiku. Aku begitu hapal suaranya dengan logat jawa kental menyapa penumpang “…assalammualaikum bapak-bapak, ibu-ibu adik-adik,…maaf saya mengamen tidak bawa gitar dan hanya bisa nyanyi bahasa jawa,..lagu wayang kekek yang dinyanyikannya setiap pagi membuat aku hapal akan lirik lagunya,….”
Sekarang aku menyadari nenek tersebut bukan saja harus bekerja keras tetapi juga harus menerima kenyataan kalau untuk hidup dia harus rela menjadi korban eksploitasi orang lain. Sementara aku dalam hidup hanya bekerja keras dan tidak menjadi korban eksploitasi terlalu sering mengeluh,.. apakah aku bisa tetap bertahan hidup jika keadaanku seperti nenek tersebut,….???? Bagaimana dengan anda?????
